Anak laki-laki itu mengangguk saja. Bokep Colmek Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Pikiranku mendadak kacau. Dia terpelanting. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Gila. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap. Astaga. Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Kita ke sana!” Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat.




















