Aku terkejut. Bokep Montok Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali.“Kamarmu! Bawa aku ke kamarmu segera!” desah Mbak Marissa.Aku tak segera bergerak. Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Dan akan makin panas dingin aku dibuatnya kalau ia bekerja sore-sore di depan rumah itu denga tank-top dan celana pendek yang menampakkan dua pahamulusnya yang jenjang.Dua minggu setelah kepindahan mereka, Mbak Marissa mengantar Fredi suaminya naik taksi di depan rumah. Mbak Marissa membalasanya. Sebentar lagi pasti hujan. Kulihat dalam remang ia menggigit ujung bibirnya. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita.




















